WELCOME TO RUMAH ANTHARES







Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 15 Januari 2011

PTS: PENGARUH KEAKTIFAN GURU AGAMA DALAM MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGELOLA PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMPS HASRATI KENDARI


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan kebutuhan mendesak yang harus dilakukan dan ditangani secara serius, salah satunya dengan cara mengupayakan pendidikan bermutu, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga diharapkan peserta didik sudah siap untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi maupun sebagai calon tenaga kerja terampil dan ahli. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan cara peningkatan kualitas kemampuan mengajar guru.
Dalam proses belajar mengajar guru memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai mediator, fasilitator, motivator, inovator dan dinamisator sehingga untuk menjalankan tugasnya dalam proses belajar mengajar diperlukan keterampilan dan kemampuan yang baik. Untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik guru harus memiliki kemampuan professional.
Guru adalah pendidik profesional, mendidik adalah pekerjaan profesional. Oleh karena itu guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik yang profesional. Sebagai pendidik profesional guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru adalah kemampuan mengelola proses belajar mengajar yang meliputi kemampuan mempersiapkan pembelajaran, kemampuan melaksanakan pembelajaran dan kemampuan mengevaluasi.
Untuk dapat memiliki kemampuan mengelola proses belajar mengajar tersebut, guru harus selalu mengembangkan kemampuannya agar dalam menyampaikan materi kepada siswanya sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi saat ini. Peningkatan kemampuan guru dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan, seminar, talk show yang biasanya diberikan oleh sekolah yang melibatkan kepala sekolah sebagai pelatih maupun hanya sebagai pengawas dengan melibatkan lembaga untuk memberikan pelatihan.
Peningkatan kemampuan tersebut dapat berupa pelatihan-pelatihan dan pengembangan pengembangan yang umumnya berupa preservice Education and training, on the job training dan in service training yang salah satunya adalah melalui pelaksanaan kegiatan musyawarah guru mata pelajaran (Suparlan, 2005:163). Musyawarah guru mata pelajaran yang kemudian akan disebut dengan MGMP sebagai salah satu bentuk kegiatan untuk meningkatkan kemampuan guru agar lebih siap dalam menghadapi berbagai kesulitan pembelajaran. MGMP memiliki kedudukan yang sangat penting untuk meningkatkan pemahaman guru dalam keseluruhan proses pembelajaran. Meski MGMP bukan satu-satunya faktor penentu kualitas yang diharapkan namun MGMP sangat diperlukan sebagai sarana komunikasi bagi guru untuk meningkatkan profesionalismenya dalam mengajar.
MGMP merupakan wadah asosiasi atau perkumpulan bagi guru mata pelajaran yang berada di suatu sanggar dan berjenjang mulai dari MGMP tingkat Kota, Wilayah, hingga MGMP internal di masing-masing sekolah yang berfungsi sebagai sarana untuk saling berkomunikasi, belajar dan bertukar pikiran berfungsi sebagai sarana untuk berkomunikasi, belajar, bertukar pikiran dan pengalaman dalam rangka meningkatkan kinerja guru sebagai praktisi/pelaku perubahan reorientasi pembelajaran di kelas. MGMP diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru (Depdiknas, 2004:1-2). Keaktifan guru dalam mengikuti kegiatan MGMP terdiri dari keaktifan jasmani (fisik) dan keaktifan psikis yang meliputi: Keaktifan sebelum kegiatan MGMP (persiapan), Keaktifan saat pelaksanaan MGMP dan Keaktifan pasca MGMP.
Untuk itu, sekolah-sekolah yan berada di kota Kendari tidak hanya mengikut sertakan guru-gurunya dalam MGMP Kota atau Wilayah tapi juga aktif mengembangkan MGMP Internal di sekolahnya masing-masing dalam rangka meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar sesuai kurikulum yang berlaku, membahas kekurangan/kesulitan dalam mengajar, perangkat apa saja yang dibutuhkan dalam membelajarkan materi kepada siswa, berkomunikasi dan berbagi informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Dari tujuan dibentuknya MGMP tersebut jelas bahwa secara ideal guru sebagai anggota MGMP dituntut aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan. Namun pada kenyataannya masih banyak MGMP internal yang kurang difungskan sebagaimana mestinya. Tidak semua guru aktif mengikuti kegiatan MGMP internal yang diselenggarakan sekolah sehingga ini akan berpengaruh terhadap kualitas mengajar guru.
MGMP khusunya MGMP internal sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diharapkan dapat dijadikan sebagai ajang komunikasi bagi guru mata pelajaran untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola proses belajar mengajar kepada siswanya.
Dari latar belakang tersebut peneliti bermaksud meneliti ”PENGARUH KEAKTIFAN GURU AGAMA DALAM MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGELOLA PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SMPS HASRATI KENDARI”.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh keaktifan guru mata pelajaran dalam MGMP Internal terhadap peningkatan kemampuan mengelola proses belajar mengajar di SMPS Hasrati Kendari?
2. Seberapa besar pengaruh keaktifan guru mata pelajaran dalam MGMP Internal terhadap peningkatan kemampuan mengelola proses belajar mengajar di SMS Hasrati Kendari ?
C. Tujuan
Berdasarkan topik permasalahan yang dikemukakan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh keaktifan guru mata pelajaran dalam MGMP Internal terhadap peningkatan kemampuan mengelola proses belajar mengajar di SMPS Hasrati Kendari.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh keaktifan guru mata pelajaran dalam MGMP Internal terhadap peningkatan kemampuan mengelola proses belajar mengajar di SMS Hasrati Kendari.

D. Kegunaan
1. Kegunaan Teoritis.
Bagi penlitian lebih lanjut, dapat digunakan sebagai acuan dan pendukung untuk penelitian yang sejenis dalam usaha pengembangan lebih lanjut.
2. Kegunaan Praktis.
a. Penulis.
Dapat menambah pengetahuan penulis sebagai kepala sekolah mengenai pentingnya kegiatan MGMP Internal sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
b. Tim MGMP Internal SMPS Hasrati Kendari.
Sebagai masukan dan sumbang saran untuk meningkatkan kualitas kegiatan MGMP Internal sehingga guru dapat meningkatkan kemampuan mengelola proses belajar mengajar.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Penelitian terdahulu membuktikan bahwa partisipasi anggota MGMP mempengaruhi manajemen MGMP, Minangwati (2005: 49) yang meneliti tentang Manajemen Musyawarah Guru Mata Pelajaran MGMP Kimia Kota Semarang Ditinjau Dari Peran Pengurus Dan Partisipasi Anggota. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara peran pengurus dan partisipasi anggota terhadap manajemen MGMP baik secara parsial maupun secara simultan.
Penelitian juga dilakukan oleh Hastuti (2005: 91-93) mengenai Kontribusi Hasil Pelatihan Guru dan Supervisi Kepala sekolah terhadap Profesionalisme Guru pada Madrasah Aliyah di Kota Semarang, bahwa hasil pelatihan guru dan supervisi kepala sekolah memberikan kontribusi positif terhadap profesionalisme guru di Madrasah Aliyah di kota semarang baik secara parsial maupun secara simultan.
A. Pengertian Mengajar
Mengajar adalah usaha untuk memberi ilmu pengetahuan (W.Gulo, 2005: 23). Mengajar pada umumnya adalah usaha guru untuk menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara murid dengan lingkungan, termasuk guru, alat pelajaran, dan sebagainya yang disebut proses belajar, sehingga tercapai tujuan pelajaran yang telah ditentukan (Nasution, 1999: 43). Menurut Robert Gagne dalam Nasution (1999: 63) bahwa mengajar dapat dianggap sebagai pengadaan dan pengaturan kondisi-kondisi ekstern, sehingga dalam kemampuan itu, mengajar berarti mengendalikan kondisi-kondisi situasi belajar seperti menarik perhatian, menyajikan stimulus yang serasi dan memberikan petunjuk/penjelasan verbal dan urutan tertentu.
Berdasarkan pengertian-pengertian mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah usaha guru menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar.

B. Faktor-faktor dalam Mengajar
Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah, diperlukan keamampuan dam pemahaman yang sangat besar untuk dapat mampu mengajar, selain itu harus memperhatikan faktor-faktor yang terlibat dalam mengajar. Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam mengajar antara lain meliputi:
1. Bahan Pelajaran.
Agar pelajaran efektif, bahan pelajaran harus dipilih berdasarkan tujuan yang diuraikan sampai bersifat spesifik agar dapat diukur keberhasilan proses belajar mengajar.
2. Guru.
Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Ia menentukan apakah proses belajar itu berpusat pada guru, terutama menggunakan metode memberitahukan ataukah berpusat pada murid dengan mengutamakan metode penemuan. Teknologi pendidikan menginginkan agar proses belajar dapat dikontrol atau dikendalikan antara lain berusaha untuk menguraikan bahan pelajaran dalam urutan tertentu, sehingga pelajaran
dapat dilakukan secara sistematik sampai tercapai tujuan pelajaran.
3. Murid.
Kecepatan maju dalam belajar tergantung pada kemampuan murid secara individu, maka dalam mengajar guru perlu memperhatikan perbedaan individual dikalangan murid. (Nasution, 1999: 51-52)

C. Alat Mengajar
J. Bruner dalam Nasution (2003: 15) membagi alat instruksional dalam empat macam menurut fungsinya :
 1. Alat untuk menyampaikan pengalaman ”vicarious” yaitu menyajikan bahan kepada murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. ”Vicarious” berarti sebagai substitusi/ pengganti pengalaman langsung.
2. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur/prinsip suatu gejala.
3. Alat dramatisasi yaitu alat yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa/tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberikan pengertian tentang sesuatu ide/gejala.
4. Alat automatisasi yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi balikan (feed back) tentang respons murid

D. Bagian Terpenting dalam Mengajar
Guru dalam mengajar harus memperhatikan bagian-bagian penting yang tidak boleh terlupakan. Bagian tersebut secara berurutan adalah sebagai berikut:
1.      Membangkitkan dan memelihara perhatian, dengan stimulus kita berusaha untuk membangkitkan perhatian siswa mengenai apa yang sedang diajarkan.
2.      Menjelaskan kepada murid hasil apa yang diharapkan dari padanya setelah belajar. Ini dilakukan dengan komunikasi verbal.
3.      Merangsang murid untuk mengingat kembali konsep, aturan dan keterampilan yang merupakan prasyarat agar memahami pelajaran yang diberikan.
4.      Menyajikan stimuli yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
5.      Memberi bimbingan kepada murid dalam proses belajar
6.      Memberikan feed back atau balikan dengan memberitahukan kepada murid apakah hasil belajarnya benar atau tidak.
7.      Menilai hasil belajar dengan memberi kesempatan kepada murid untuk mengetahui apakah ia telah menguasai bahan pelajaran itu dengan memberikan beberapa soal.
8.      Mengusahakan transfer dengan memberikan contoh-contoh tambahan untuk menggeneralisasi apa yang telah dipelajari itu, sehingga ia dapat menggunakannya dalam situasi lain.
9.      Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari (Nasution, 2003: 184-185).

E. Prinsip-prinsip Mengajar
Menurut Mursyel yang dikutip oleh Slameto prinsip-prinsip mengajar disimpulkan menjadi enam ( 6 ) prinsip yaitu:
1.      Konteks, dalam belajar sebagian besar tergantung pada konteks belajar itu sendiri.
2.      Fokus, belajar yang penuh makna dan efektif harus diorganisasikan di satu fokus, pengajaran akan berhasil dengan penggunaan fokus.
3.      sosialisasi, mutu makna dan efektifitas belajar sebagian besar tergantung pada kerangka social tempat belajar itu berlaku.
4.      Individualisasi, dalam mengorganisasi belajar mengajar, guru memperhatikan taraf kesanggupan siswa dan merangsangnya untuk menentukan bagi siswanya sendiri apa yang dapat dilakukan sebaikbaiknya.
5.      Sequence, bila hendak mencapai hasil belajar yang autentik organisasi rangkaian (sequence) dari belajar yang penuh makna harus dengan sendirinya bermakna penuh pula.
6.      Evaluasi, dilaksanakan untuk meneliti hasil dan proses belajar siswa,untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang melekat pada proses belajar itu (Slameto, 2003: 40-43).
Dalam mengajar guru harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.      Perhatian, dalam mengajar guru harus dapat membangkitkan perhatian siswa kepada pelajaran yang diberikan oleh guru.
2.      Aktifitas, dalam proses belajar mengajar guru perlu menimbulkan aktifitas siswa dalam berpikir maupun berbuat.
3.      Appersepsi, setiap guru dalam mengajar perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, ataupun pengalamannya.
4.      Peragaan, waktu guru mengajar didepan kelas harus berusaha menunjukkan benda-benda yang asli, bila mengalami kesukaran boleh menunjukkan model, benda tiruan, atau menggunakan benda lain.
5.      Repetisi, bila guru menjelaskan suatu unit pelajaran perlu diulang-ulang sehingga akan memberikan tanggapan yang jelas dan tidak mudah dilipakan.
6.      Korelasi, guru dalam mengajar wajib memperhatikan dan memikirkan hubungan antar setiap mata pelajaran.
7.      Konsentrasi, usaha konsentrasi pelajaran menyebabkan siswa memperoleh pengalaman langsung, mengamati sendiri, meneliti sendiri, untuk menyusun dan menyimpulkan pengetahuan itu sendiri.
8.      Sosialisasi, siswa disamping sebagai individu juga mempunyai segi social yang perlu dikembangkan.
9.      Individualisasi, guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan siswa secara individu agar dapat melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya.
10.  Evaluasi, guru dapat melaksanakan penilaian yang efektif dan menggunakan hasil penilaian untuk perbaikan belajar mengajar, dengan evaluasi guru dapat mengetahui prestasi dan kemajuan siswa sehingga dapat bertindak dengan tepat bila siswa mengalami kesulitan belajar. (Slameto, 2003: 46-53).

F. Pengertian Proses Belajar Mengajar
Menurut pedoman guru pendidikan agama islam yang dikutip oleh Suryosubroto (2002: 19) belajar mengajar sebagai proses mengandung dua pengertian yaitu rentetan/tahapan/fase dalam mempelajari sesuatu dan dapat pula berarti sebagai rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai selesai evaluasi dan progaram tindak lanjut.
Sedangkan menurut Suryosubroto proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar adalah kegiatan yang dilakukan guru mulai perencanaan sampai dengan evaluasi dan program tindak lanjut dalam rangka menyampaikan membelajarkan materi kepada siswa.

G. Kemampuan Guru dalam Mengelola Proses Belajar Mengajar
Kemampuan mengelola proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang edukatif antara guru dan peserta didik yang mencakup segi kognitif, afektif dan psikomotorik, sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar tercapai tujuan pengajaran (Suryosubroto, 2002: 19)
Menurut Anni (2005: 12-13) ada tiga persyaratan utama yang harus dimiliki oleh guru agar mampu menjadi guru yang baik yaitu menguasai: bahan ajar, keterampilan pembelajaran, dan evaluasi. Menurut Achmad Badawi dalam Suryosubroto (2002: 20-23) kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar ditinjau dari kegiatan yang dilakukan guru pada waktu mengajar, bahwa mengajar guru dikatakan berkualitas bila seorang guru dapat menyampaikan kelakuan baik dalam usaha mengajarnya yang dicerminkan dalam kemampuan mengelola proses belajar mengajar yang berkualitas yaitu sebagai berikut:
1. Kemampuan dalam mempersiapkan pengajaran.
a. Kemampuan merencanakan proses belajar mengajar meliputi:
1). Kemampuan merumuskan tujuan pengajaran.
2). Kemampuan memilih metode alternatif.
3). Kemampuan memilih metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
4). Kemampuan merencanakan langkah-langkah pengajaran.
b. Kemampuan mempersiapkan bahan pelajaran terdiri dari:
1). Kemampuan menyiapkan bahanpengajaran sesuai dengan tujuan
2). Kemampuan mempersiapkan pengayaan bahan pengajaran.
3). Kemampuan menyiapkan bahan pengajaran remidial.
c. Kemampuan merencanakan media dan sumber terdiri dari:
1). Kemampuan memilih media pengajaran yang tepat.
2). Kemampuan memilih sumber pengajaran yang tepat.
d. Kemampuan merencanakan penilaian terhadap prestasi siswa
1). Kemampuan menyusun alat penilaian hasil pengajaran.
2) Kemampuan merencanakan penafsiran penggunaan hasil penilaian pengajaran.
2. Kemampuan dalam melaksanakan pengajaran terdiri dari:
a. Kemampuan menguasai bahan yang direncanakan dan disesuaikannya, terdiri dari sub-sub kemampuan :
1). Kemampuan menguasai bahan yang direncanaan.
2). Kemampuan memberikan pengajaran remedial.
b. Kemampuan dalam mengelola kegiatan belajar mengajar terdiri dari:
1). Kemampuan mengarahkan pengajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.
2). Kemampuan menggunakan metode pengajaran yang direncanakan.
3). Kemampuan menggunakan metode pengajaran alternatif.
4). Kemampuan menyesuaikan langkah-langkah mengajar dengan langkah-langkah yang rencanakan.
c. Kemampuan mengelola kelas.
1). Kemampuan menciptakan suasana kelas yang serasi.
2). Kemampuan memanfaatkan kelas untuk mencapai tujuan pengajaran.
d. Kemampuan menggunakan metode dan sumber.
1). Kemampuan menggunakan media pengajaran yang direncanakan.
2). Kemampuan menggunakan sumber pengajaran yang telah direncanakan.
e. Kemampuan melaksanakan interaksi belajar mengajar.
1). Kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar secara logis berurutan.
2). Kemampuan memberi pengertian dan contoh yang sederhana.
3). Kemampuan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
4). Kemampuan bersikap sungguh-sungguh terhadap pengajaran.
5). Kemampuan bersikap terbuka terhadap pengajaran.
6). Kemampuan memacu aktifitas siswa.
7). Kemampuan mendorong siswa untuk berinisiatif.
8). Kemampuan merangsang timbulnya respon siswa terhadap pengajaran.
f. Kemampuan melaksanakan penilaian terhadap hasil pengajaran.
1). Kemampuan melaksanakan penilaian hasil pengajaran.
2). Kemampuan melaksanakan penilaian selama proses belajar mengajar berlangsung.
g. Kemampuan pengadministrasian kegiatan belajar mengajar.
1). Kemampuan menulis di papan tulis.
2). Kemampuan mengadministrasikan peristiwa penting yang terjadi selama proses belajar mengajar.
Menurut Nana Sujana dalam Suryosubroto (2002: 24) kemampuan guru dalam mengajar meliputi:
1. Perencanaan pengajaran yang berisi:
a. Perumusan tujuan pengajaran.
b. Penetapan alat evaluasi.
c. Penetapan bahan pengajaran.
d. Penetapan kegiatan belajar mengajar.
e. Penetapan metode da alat pengajaran.
2. Pelaksanaan pengajaran, termasuk didalamnya penilaian pencapaian tujuan pengajaran.
Dari pendapat tersebut Suryosubroto (2002, 26-27) menyimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar dikelompokkan menjadi tiga (3) kelompok yaitu:
1. Kemampuan merencanakan pengajaran meliputi:
a. Menguasai garis-garis besar program pengajaran (GBPP).
b. Menyusun analisis materi pelajaran (AMP).
c. Menyusun program semester/catur wulan.
d. Menyusun rencana pengajaran dengan memperhatikan:
1). Karakteristik dan kemampuan awal siswa.
2). Perumusan tujuan pengajaran.
3). Pemilihan bahan dan urutan bahan.
4). Pemilihan metode mengajar.
5). Pemilihan sarana/alat pendidikan.
6). Pemilihan strategi evaluasi.
2. Kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar meliputi:
a. Membuka pelajaran.
b. Melaksanakan inti proses belajar mengajar terdiri dari:
1). Menyampaikan materi pelajaran.
2). Menggunakan metode mengajar.
3). Menggunakan media/alat mengajar.
4). Mengajukan pertanyaan.
5). Memberikan penguatan.
6). Interaksi belajar mengajar.
c. Menutup pelajaran.
3. Kemampuan mengevaluasi pengajaran meliputi:
a. Melaksanakan tes.
b. Mengolah hasil penilaian.
c. Melaporkan hasil penilaian.
d. Melaksanakan program remedial/perbaikan pengajaran.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar meliputi:
1. Kemampuan merencanakan pembelajaran meliputi:
a. Penguasaan GBPP.
b. Menyusun silabi.
c. Membuat program tahunan.
d. Menyusun progran semester.
e. Menyusun rencana pembelajaran RP
f. Memahami tujuan pembelajaran.
g. Mempersiapkan alat evaluasi.
h. Membuat kesan umum mengenai RP.
2. kemampuan melaksanakan pembelajaran meliputi:
a. Membuka pelajaran.
b. Kemampuan menjelaskan.
c. Menggunakan metode pembelajaran.
d. Kontrol siswa.
e. Kemampuan bertanya.
f. Kemampuan menguasai materi.
g. Kemampuan menggunakan media.
h. Penggunaan sumber belajar.
i. Kemampuan menutup pelajaran.
j. Membuat kesan umum pembelajaran.
3. kemampuan mengevaluasi:
a. Kemampuan alat evaluasi.
b. Melaksanakan program remidi.
c. Membuat laporan kepada atasa

H. Keaktifan
Keaktifan adalah kegiatan, kesibukan. Berasal dari kata aktif yang artinya bekerja, berusaha. Aktifitas adalah keaktifan, kegiatan, kesibukan, kerja/salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian di dalam perusahaan (Tim Penyusun Kamus Besar Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989). Dari pengertian keaktifan di atas yang dimaksud dengan keaktifan guru dalam MGMP adalah sejauh mana guru berperan serta dan berpartisipasi dalam mengikuti kegiatan MGMP Internal yang dilaksanakan di SMPS Hasrati.

I. Macam-macam Keaktifan
Menurut Rohani (2004:6) aktivitas terbagi atas dua (2) macam yaitu aktivitas fisik dan aktivitas psikis. Aktivitas fisik adalah jika seseorang giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain atau bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengar, melihat atau hanya pasif (kegiatan yang tampak). Sedangkan aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi (kegiatan yang tampak bila ia sedang mengamati, memecahkan persoalan, mengambil keputusan dan sebagainya).
Seseorang akan berhasil dalam setiap kegiatannya apabila melakukan aktifitas, baik aktivitas fisik maupun aktivitas psikis. Kedua aktivitas tersebut merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, hal ini sesuai dengan pendapat J Piaget bahwa ”Seorang anak berpikir sepanjang ia berbuat”. ( Rohani, 2004:6-7).
Paul B. Diedrich menyimpulkan terdapat 177 macam kegiatan yang meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas jiwa, antara lain sebagai berikut:
I.          Visual activities (13) seperti membaca, memperhatikan: gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain, dan sebagainya.
II.       Oral activities (43) seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mngeluarkan pendapat, mengadakan interview, diskusi, interupsi dan sebagainya.
III.    Listening activities (11) seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato dan sebagainya.
IV.    Writing activities (22) seperti menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin dan sebagainya.
V.       Drawing activities (8) seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola dan sebagainya.
VI.    Motor activities (47) seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya.
VII. Mental activities (23) seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan dan sebagainya.
VIII. Emotional activities (23) seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira berani, tenang, gugup dan sebagainya (Nasution, 2000:91).
Dari macam-macam aktifitas tersebut, guru pada saat mengikuti kegiatan MGMP Internal melakukan berbagai aktifitas tersebut., oleh karena itu untuk mempermudah dalam memahami skripsi ini penulis mengelompokkan keaktifan-keaktifan tersebut sesuai pada saat pelaksanaan MGMP Internal yang meliputi aktifitas fisik dan psikis dan dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu:
1. Keaktifan guru sebelum pelaksanaan kegiatan MGMP Internal (Persiapan).
2. Keaktifan guru pada saat kegiatan MGMP Internal dilaksanakan (Pelaksanaan).
3. Keaktifan guru setelah dilaksanakan kegitan MGMP Internal (Pasca).

J. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
1. Pengertian MGMP
MGMP merupakan suatu wadah asosiasi atau perkumpulan bagi guru mata pelajaran yang berada di suatu sanggar/kabupaten/kota yang berfungsi sebagai sarana untuk saling berkomunikasi, belajar dan bertukar pikiran dan pengalaman dalam rangka meningkatkan kinerja guru sebagai praktisi/perilaku perubahan reorientasi pembelajaran di kelas (Depdiknas,2004: 1).
Menurut Mangkoesapoetra (2004:1) MGMP merupakan forum atau wadah profesional guru mata pelajaran yang berada pada suatu wilayah kebupaten/ kota/ kecamatan/ sanggar/ gugus sekolah.
2. Tujuan MGMP.
Tujuan diselenggarakannya MGMP menurut pedoman MGMP (2004: 2) adalah:
1. Tujuan umum.
Tujuan MGMP adalah untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru.
2. Tujuan khusus.
a) Memperluas wawasan dan pengetahuan guru mata pelajaran dalam upaya mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien.
b) Mengembangkan kultur kelas yang kondusif sebagai tempat proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan memcerdaskan siswa.
c) Membangun kerjasama dengan masyarakat sebagai mitra guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. (Depdiknas, 2004: 2)
Menurut Mangkoesapoetra (2004: 2) tujuan diselenggarakannya MGMP adalah untuk:
a)      Memotivasi guru, meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan dan membuat evaluasi program pembelajaran dalam rangka meningkatkan keyakinan diri sebagai guru profesional.
b)      Meningkatkan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat menunjang usaha peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.
c)      Mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari solusi alternative pemecahan sesuai dengan kaarakteristik mata pelajaran masingmasing, guru, sekolah dan lingkungannya.
3. Peranan MGMP.
Menurut pedoman MGMP (Depdiknas. 2004: 4) MGMP berperan untuk:
a. Mengakomodir aspirasi dari,oleh dan untuk anggota.
b. Mengakomodasi aspirasi masyarakat/stokeholder dan siswa
c. Melaksanakan perubahan yang lebih kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran.
d. Mitra kerja Dinas Pendidikan dalam menyebarkan informasi kebijakan pendidikan.
Sedangkan menurut Mangkoesapoetra (2004: 3) peranan MGMP adalah:
a. Reformator dalam classroom reform, terutama dalam reorientasi pembelajaran efektif.
b. Mediator dalam pengembangan dan peningkatan kompetensi guru terutama dalam pengembangan kurikulum dan sistem pengujian
c. .Supporting agency dalam inivasi manajemen kelas dan manajemen sekolah.
d. Collaborator terhadap unit terkait dan organisasi profesi yang relevan.
e. Evaluator dan developer school reform dalam konteks MPMBS.
f. Clinical dan academic supervisor dengan pendekatan penilaian appraisal.
4. Fungsi MGMP.
Adapun fungsi MGMP menurut Mangkoesapoetra (2004: 3) adalah:
a.       Menyusun pogram jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek serta mengatur jadwal dan tempat kegiatan secara rutin.
b.      Memotivasi para guru untuk mengikuti kegiatan MGMP secara rutin, baik di tingkat sekolah, wilayah, maupun kota.
c.       Meningkatkan mutu kompetensi profesionalisme guru dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengujian/evaluasi pembelajaran di kelas sehingga mampu mengupayakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan di sekolah.
5. Prinsip MGMP.
1. Merupakan organisasi mandiri.
2. Dinamika organisasi yang dinamis berlangsung secara alamiah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
3. Mempunyai visi dan misi dalam upaya mengembangkan pelayanan pendidikan khususnya proses pembelajaran efektif dan efisien.
4. Kreatif dan inovatif dalam mengembangkan ide-ide pembelajaran yang efektif dan efisien.
5. Memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) sekurang-kurangnya memuat:
a. Nama dan tempat.
b. Dasar, tujuan dan kegiatan (Depdiknas, 2004: 3)
Sedangkan menurut Mangkoesapoetra (2004: 2) prinsip kerja MGMP adalah cerminan kegiatan ”dari, oleh dan untuk guru dari semua sekolah” atas dasar ini MGMP merupakan organisasi non-struktural yang bersifat mandiri, berdasarkan kekeluargaan dan tidak memiliki hubungan hierarkis dengan lembaga lain.
6. Kegiatan MGMP.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam pertemuan MGMP menurut pedoman MGMP (2004: 5) antara lain :
1. Meningkatkan pemahaman kurikulum.
Kegiatan MGMP dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman guru mengenai kurikulum yang dipakai dalam proses pembelajaran beserta perangkat yang dibutuhkan dalam mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum, sehingga setelah mengikuti kegiatan MGMP guru diharapkan dapat membuat perangkat pembelajaran dan dapat menjalankan kurikulum yang digunakan dengan benar.
2. Mengembangkan silabus dan sistem penilaian.
Guru diharapkan mampu mengembangkan silabus yang sudah ada dan diharapkan mampu memilih metode penilaian pembelajaran disesuaikan dengan materi, kemampuan siswa, media alat bantu pembelajaran.
3. Mengembangkan dan merancang bahan ajar.
Guru dilatih untuk dapat mengembangkan bahan pelajaran pokok sehingga guru diharapkan mampu menyusun rancangan bahan pelajaran.
4. Meningkatkan pemahaman tentang pendidikan berbasis luas (Broad based education) dan pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skill)
Bahwa guru dalam mengajar tidak hanya berfokus terhadap materi yang diajarkan tetapi mampu menanamkan keterampilan kepada siswa.
5. Mengembangkan model pembelajaran efektif.
Guru dalam mengajar harus fokus terhadap pencapaian tujuan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi.
6. Mengembangkan dan melaksanakan analisis sarana pembelajaran.
Guru mampu merencanakan sarana pembelajaran yang tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
7. Mengembangkan dan melaksanakan pembuatan alat pembelajaran sederhana.
Guru dapat membuat alat pembelajaran sesuai dengan materi dan kemampuan sekolah guna menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
8. Mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran berbasis komputer.
Penerapan sistem komputer terhadap materi yang diajarkan.
9. Mengembangkan media dalam melaksanakan proses belajar mengajar
Guru mampu merencanakan dan mengembangkan media apa yang cocok untuk digunakan dalam pembelajaran sehingga dapat mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
            Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu peneliti akan menggambarkan atau mendiskripsikan secara konprehensif informasi data yang diperoleh di lokasi penelitian, yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

B. Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan pada SMPS Hasrati Kendari di Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari. Pelaksanaan penelitian ini pada semester 1 tahun pelajaran 2010/2011, dalam kurun waktu bulan  September  sampai November 2010.

C. Subyek Penelitian
            Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah Guru Pendidikan Bahasa Inggris  Sekolah Menengah Pertama Swasta (SMPS) Hasrati Kendari yang pada semester 1 tahun pelajaran 2010/2011 ini masih aktif mengajar di SMPS Hasrati Kendari.

D. Data dan Teknik Pengambilan
1.         Sumber data adalah personil yang teridiri dari guru.
2.         Jenis data yang didapatkan adalah data kuantitatif dan data kualitatif.
3.         Teknik pengambilan data: dengan alat observasi, wawancara dan tes kompetensi materi sesuai dengan bidang ilmunya.

E. Teknik Analisis Data
            Seperti yang dikemukakan oleh Suharsimin Arikunto, (1998: 240-244) bahwa dalam proses analisa data dilakukan tiga tahapan kegiatan yaitu: persiapan, tabulasi, dan penerapan data. Ketiga proses tersebut dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
(1).    Persiapan, yaitu kegiatan yang mengacu pada proses mentransformasikan data mentah, menyeleksi, menyederhanakan, dan mengelompokkan data.
(2).    Tabulasi, kegiatan yang dilakukan meliputi: (a) memberikan skor terhadap hasil tes tertulis, dan (b) mengklasifikasi nilai hasil tes guru.
(3).  Penerapan data, adalah menganalisa data hasil tes dan hasil kuisioner lalu menggambarkan semua karakteristik data, menggunakan statistik deskriptif yaitu prosentase dan rata-rata.







BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

            Pada bagian ini peneliti akan mengemukakan hasil penelitiannya dengan mengemukakan; (1) gambaran umum lokasi penelitian, (2) karakteristik subyek penelitian, (3) hasil penelitian, dan (4) pembahasan hasil penelitian.

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum tentang MGMP Mata Pelajaran Bahasa Inggris
MGMP Bahasa Inggris dibentuk sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan profesi , saling berkomunikasi, konsultasi, bertukar pikiran dan pengalaman dalam rangka meningkatkan kinerja uru sehingga dapat melaksanakan tugas sebagai pendidik dan pengajar yang berkualitas ditandai dengan kemampuan mengelola proses belajar mengajar yang bermutu. MGMP Bahasa Inggris merupakan wadah/asosiasi/perkumpulan bagi guru-guru mata pelajaran Bahasa Inggris se Kendari yang berpusat SMP Negeri 1 Kendari di Jalan Sam Ratulangi Kecamatan Kendari Barat Kota KEndari. Bertindak sebagai ketua,………., serta beranggotakan guru-guru mata pelajaran Bahasa Inggris se Kota Kendari  baik yang berstatus pegawai negeri sipil maupun honor atau tidak tetap.
Kegiatan MGMP Bahasa Inggris ini dilaksanakan setiap hari Minggu bertempat di SMP Negeri 1 Kendari  dengan kegiatan yang dilaksanakan antara lain:
a.    Meningkatkan pemahaman terhadap kurikulum yang berlaku, dalam hal ini KTSP.
 Kurikulum bias dikatakan adalah jantungnya proses belajar mengajar. Sebab kegiatan yang dilaksanakan di kelas selama jam pelajaran adalah berdasarkan kurikulum yang telah disusun sebelumnya. Sehingga guru harus memahami betul perihal kurikulum untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efisien dan evektif.
b.   Membuat perangkat pembelajaran yang berupa: program tahunan, program semester, silabus, rencana pembelajaran yang umumnya dibuat pada awal tahun, awal semester, dan untuk rencana pembelajaran setiap hendak mengajar.
c.    Membuat alat/media pembelajaran.
Pembuatan alat/media pembelajaran dinilai sangat penting karena alat dan media dapat menunjang keberhasilan dalam mengajar. Dengan alat/media pembelajaran yang tepat guru dapat menyampaikan materi dan menciptakan pembelajaran yang lebih baik.
Dilaksanakannya berbagai kegiatan di atas dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Sehingga guru diharapkan aktif dalam mengikuti setiap kegiatan yang dilaksanakan karena dengan guru aktif dapat meningkatkan pemahaman tentang kurikulum dan dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengelola proses belajar mengajar.

2. Karakteristik Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini berjumlah 4 orang, yang merupakan guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMPS Hasrati Kendari dan aktif mengikuti Musyawarag Guru Mata Pelajaran (MGMP). Keempat responden ini memiliki latar belakang pendidikan di bidang bahasa inggris dengan masa jabatan guru yang bervariasi sebagaimana terlihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Informasi Umum Responden
NO
RESPONDEN
PENIDIKAN
MASA JABATAN
1
R1
S1. Pend. Bahasa Inggris

2
R2
S1. Pend. Bahasa Inggris

3
R3
S1. Pend. Bahasa Inggris

4
R4
S1. Pend. Bahasa Inggris


Table 2. Umur Responden
No
Umur (Tahun)
Jumlah
Persentase (%)
1
51 – 60
-
0
2
41 – 50
3
75
3
31 – 40
1
25

Tabel 3. Masa Jabatan Guru
No
Masa Jabatan (Tahun)
Jumlah
Persentase (%)
1
31- 40
-
0

2
21- 30
2
50

3
11- 20
1
25

4
1- 10
1
25


Tabel 4. Keaktifan dalam MGMP Bahasa Inggris dalam kurun waktu dua bulan
No
Responden
Jumlah Keaktifan
Persentase (%)
Keterangan
1
R1
7
87,5
Sangat tinggi
2
R2
8
100
Sangat tinggi
3
R3
2
25
Sangat rendah
4
R4
5
62,5
Tinggi

Bersadarkan karakteristik responden tersebut di atas, dapat dijelaskan bahwa tingkat pendidikan responden seluruhnya berada pada jenjang S1 dengan bidang pendidikan yang sesuai dengan bidang study yang mereka pegang.
Usia responden bervariasi, namun lebih didominasi oleh rentan usia 41 – 50 tahun yaitu sebanyak 3 orang atau 75 persen dari keseluruhan responden. Dan sisanya 1 orang berada pada rentan usian 31 - 40 tahun atau 25 persen dari keseluruhan responden. Usia ini tergolong sebagai usia produktif. Masa jabatan guru didominasi oleh rentan masa jabatan 21 – 30 tahun atau 50 persen dari keseluruhan responden. Data tersebut menunjukka tidak ada selisih yang signifikan di antara keempat responden. Namun, dalam keaktifan mengikuti MGMP, ada perbedaan yang cukup signifikan antara responden 4 dengan responden 1,2 dan 3. Keaktifan responden 4 dalam MGMP hanya 25 persen atau dapat dikategorikan sangat rendah. Sementara ketiga responden lainnya berada dalam kategori tinggi dan sangat tinggi.

C. Hasil Penelitian
Dari tujuan penelitian yang telah ditetapkan, penulis kemudian melaksanakan tahapan-tahapan penelitian sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. Secara berturut-turut peneliti melakukan observasi, wawancara, dan tes kompetensi dengan hasil sebagaimana diuraikan berikut.


I.  Hasil Observasi
Observasi pertama yang dilakukan penulis pada tanggal….. merupakan pengamatan untuk mengetahui situasi dan kondisi pelaksanaan MGMP Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Kendari yang merupakan pusat MGMP Bahasa Inggris SMP untuk wilayah Kota Kendari.
Dari hasil Observasi diketahui bahwa MGMP yang rutin diadakan setiap hari minggu ini berlangsung dalam durasi waktu 3 jam per minggu. Di setiap pertemuan tiap minggunya, panitia menghadirkan minimal seorang pemateri.
Setelah mendengarkan paparan materi dari narasumber, para peserta MGMP diberi kesempata yang seluas-luasnya untuk bertanya. Selain Tanya jawab dengan pemateri, juga ada diskusi dan saling tukar pendapat antara peserta MGMP sehingga para peserta bias saling membagi informasi dan pengalaman.
Dalam MGMP ini, materi-materi yang dibahas tiap minggunya berkaitan erat dengan upaya peningkatan kualitas mengajar guru misalnya:
-          Pemahaman kurikulum;
-          Cara mengembangkan silabus dan sistem penilaian;
-          Cara mengembangkan dan merancang bahan ajar;
-          Memberikan pemahaman tentang pendidikan berbasis luas (Broad based education) dan pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skill);
-          Cara mengembangkan model pembelajaran efektif; mengembangkan dan melaksanakan analisis sarana pembelajaran;
-          Cara mengembangkan dan melaksanakan pembuatan alat pembelajaran sederhana;
-          Cara mengembangkan media dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Penulis kemudian menlakukan observasi kedua pada tanggal….. atau tepatnya setelah para responden mengikuti MGMP sebanyak 6 kali. Observasi ini bertujua untuk meliat sejauh mana peningkatan kemampua mengajar guru setelah mengikuti MGMP sebanyak 6 kali. Observasi ini bertempat di SMPS Hasrati Kendari.
Dari observasi tersebut diperoleh hasil bahwa kemampuan mengajar guru telah mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan:
1.       Ada peningkatan dalam cara membuka dan menutup pelajaran;
2.      Guru sudah mulai menggunakan metode mengajar yang lebih bervariasi, tidak terus-terusan menggunakan metode ceramah;
3.      Kemampuan dalam pengelolaan kelas lebih meningkat;
4.      Mulai menggunakan media pembelajaran yang sesuai;
5.      Sumber materi bervariasi.
6.      Pemahaman tentang cara penyusunan program tahunan, program semester, silabus, dan RPP meningkat.

2.  Hasil Wawancara
            Penulis melakuakan wawancara secara terbuka dan mendalam pada masing-masing informan dengan maksud untuk melengkapi hasil observasi dan sebagai pengantar awal dalam melakukan tes kompetensi.
            Berdasarkan permintaan responden dan sesuai tata krama ilmiah, penulis tidak mencantumkan nama lengkap responden tapi hanya dengan inisial. Uraian wawancara penelitian ini ditunjukkan pada lampiran 1.
            Hasil wawancara pada tanggal 27 Oktober 2010 dengan keempat responden menemukan bahwa selama ini keempat responden memiliki masalah dalam mengajar mata pelajaran yang mereka pegang. Masalah itu pun bervariasi. R1 mengemukakan bahwa: “ masalah saya dalam mengajar adalah kurangnya penguasaan model-modelpembelajara yang efektif. Kita tau bahwa mengajar bahasa Inggris memerlukan keterampilan untuk menciptakan suasana belajar yang tidak mmbosankan. Namun, pengetahuan saya tentang model pembelajaran efektif dan komunikatif sangat kurang”.
            Sementara itu responden R2 juga mengemukakan bahwa: “sejujurnya, saya masih kurang memahami konsep dan penerapan kurikulum KTSP. Makanya, dalam mengajar saya menemuka kendala yang cukup besar. Sedangkan responden R3 dan R4 mengemukakan bahwa mereka memiliki kendala dalam menyusun RPP dan system penilaian serta silabus.
Keempat responden ini juga menyatakan bahwa masalah-masalah dalam mengajar itu timbul dikarenakan tidak mendukugnya informasi yang mereka terima terkait hal-hal yang menjadi kendala mereka dalam mengajar. Responden R2 mengatakan,
“memang sudah diadakan pelatihan-pelatihan untuk memberikan pemahaman kepada guru. Namun, dalam pelatihan itu kita tidak leluasa untuk berdiskusi dengan pemateri dikarenakan durasi waktu. Sehingga tak jarang, walaupun sudah mengikuti pelatihan, pemahaman kita tidak bertambah. Tapi justru semakin bingung.”
Para responden mengaku antusias dengan program MGMP ini. Responden R1 dan R2 bahkan mengaku selalu mempersiapkan lebih dulu materi yang telah disepakati untuk diahas pada pertemuan tersebut. Alasannya, mereka bias lebih leluasa bertanya, menyampaikan gagasan, ide, saran serta berdiskusi jika menemukan kendala baik dalam mengajar maupun berhubungan dengan materi MGMP. Selain itu responden R4 menambahkan”di setiap pertemuan kami diberi tugas untuk dikerjakan di rumah. Tugas-tugas itu sangat membantu meningkatkan pemahaman kami tentang hal-hal yang berhubungan dengan pembelajaran”.
Para responden juga mengaku, sagat banyak manfaat yang mereka dapatkan setelah mengikuti MGMP. Mayoritas responden mengaku, materi-materi yang mereka dapatkan dalam mengikuti MGMP sangat berguna untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar. Para responden juga mengatakan bahwa penerapan materi-materi MGMP dalam mengajar membantu merea menciptakan pembelajaran lebih bervariasi. Selain itu, MGMP juga dapat membantu terciptanya guru yang berwawasan luas dan professional.  
Para responden juga merasakan adanya perubahan yang signifikan dalam cara mereka mengajar mereka antara sebelum dan sesudah mengikuti MGMP. Responden R1 mengakui bahwa setelah mengikuti MGMP, kemampuan responden R1 dalam pengelolaan kelas meningkat. ia lebih bisa mengontrol situasi kelas dan kondisi kelas pun menjadi lebih hidup. Antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran meningkat berkat variasi metode mengajar yang ia terapkan. R2 juga mengungkapkan “setelah mengetahui dengan jelas tentang kurikulum ini, saya jadi lebih mudah dalam mengajar”. Begitu pula dengan responden R4 yang mengatakan bahwa sekarang ia jauh lebih mengerti mengenai cara menyusun system penilaian dan silabus. Pembelajaran pun menjadi lebih terarah berkat adanya silabus, program tahunan, program semester, serta RPP yang jelas dan terstruktur.

D. Pembahasan Hasil Penelitian
Secara nyata berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara keaktifan guru dalam MGMP terhadap kemampuan mengelola PBM yang didukung oleh hasil observasi dan wawancara langsung dengan keempat responden. Dengan mencermati hasil observasi da wawancara, dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara keaktifan guru dalam MGMP terhadap kemampuan mengelola PBM.
Adanya pengaruh keaktifan guru dalam MGMP terhadap kemampuan guru mengelola PBM dikarenakan dengan semakin aktif guru saat MGMP mengakibatkan peningkatan kemampuan guru dalam menghadapi berbagai kesulitan pembelajaran terkait dengan penerapan kurikulum. Melalui MGMP guru dapat saling berkomunikasi, belajar dan bertukar pikiran dan pengalaman dalam rangka meningkatkan kinerjanya sebagai praktisi/pelaku perubahan reorientasi pembelajaran di kelas. Kenyataan tersebut didukung teori Depdiknas (2004:1-2), yang menyatakan bahwa MGMP diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru. Semakin aktif guru saat mengikuti MGMP, maka akan semakin banyak berbagai pengetahuian dan pengalaman yang akan diperoleh sehingga hal tersebut berdampak pada semakin baiknya kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas menyangkut berbagai hal baik dalam memersiapkan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran maupun dalam melaksanakan kegiatan evaluasi hasil belajar siswa.
Secara umum keaktifan guru Bahasa Inggris SMPS Hasrati Kendari dalam mengikuti MGMP telah masuk dalam ketegori tinggi ditunjukkan dari keaktifan mereka dalam memersiapkan kegiatan MGMP yaitu dengan mempelajari materi yang telah disepakati agar siap saat mengikuti kegiatan, keaktifan mereka saat pelaksanaan MGMP yaitu sering mengikuti pertemuan MGMP ekonomi yang dilaksanakan, sering menanyakan hal-hal yang sulit dipahami mengenai pengajaran, sering mengerjakan tugas-tugas selama pelaksanaan MGMP, serta sering memberikan gagasan, ide, saran dan pendapa yang berhubungan dengan pengajaran dalam forum MGMP. Selain itu keaktifan guru Bahasa Inggris SMPS Hasrati Kendari juga ditunjukkan dari keaktifannya pasca MGMP yaitu sering memanfaatkan hasil MGMP dalam pembelajaran serta berupaya untuk mengembangkan pembelajaran yang bervariasi terkait dengan pengalaman yang diperoleh dari MGMP.
Dengan keaktifan yang telah tinggi saat mengikuti MGMP dari guru Bahasa Inggris SMP ke Kota Kendari tersebut berdampak pada baiknya kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar ditunjukkan dari baiknya kemampuan guru dalam memersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pengajaran. Baik kemampuan guru dalam mempersiapkan pembelajaran ditunjukkan dari pengetahuan guru tentang garis-garis besar program pengajaran secara baik serta kemampuan guru dalam menyusun analisis materi pengajaran, menyusun program pengajaran tahunan, menyusun program semester, membuat rencana pembelajaran, memahami tujuan pengajaran yang hendak dicapai serta mempersiapkan alat evaluasi untuk penilaian guna mencapai tujuan pembelajaran secara baik pula. Baiknya kemampuan guru dalam melaksanakan pengajaran ditunjukkan dari kemampuan guru dalam membuka pembelajaran, baiknya
kemampuan guru dalam menyampaikan materi sehingga dapat dipahami siswa, baiknya metode pengajaran yang digunakan guru, baiknya kemampuan guru mengontrol pelaksanaan kegiatan pembelajaran, baiknya kemampuan guru memberikan pertanyaan kepada siswa, baiknya penguasaan guru pada materi yang akan disampaikan kepada siswa, baiknya kemampuan guru dalam menggunakan sumber belajar, serta baiknya kemampuan guru dalam menutup pelajaran. Sedangkan baiknya kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan evaluasi ditunjukkan dari kemampuan guru dalam melaksanakan berbagai jenis tes untuk mengukur kemampuan siswa, baiknya kemampuan guru dalam melaporkan hasil evaluasi, dan baiknya kemampuan guru dalam memberikan program remedial kepada siswa.
Dengan baiknya kemampuan guru dalam melaksanakan PBM tersebut menjadikan proses pembelajaran yang dilaksanakan semakin berkualitas sehingga pemahaman siswa pada materi yang disampaikan menjadi lebih baik. Kenyataan tersebut sejalan dengan pendapat Achmad Badawi dalam Suryosubroto (2002:20-23), yang menyatakan bahwa kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar ditunjukkan dari kegiatan yang dilakukan guru pada waktu mengajar yang berkualitas yang tercermin dalam kemampuan mengelola proses belajar mengajar secara baik dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi mengakibatkan peningkatan kemampuan siswa secara menyeluruh menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotor.



BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya, maka dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut :
1.      Keaktifan guru Bahasa Inggris dalam MGMP di SMA se Kota Kendari masuk dalam kategori tinggi sedangkan kemampuan guru dalam melaksanakan PBM masuk dalam kategori baik.
2.      Keaktifan guru Bahasa Inggris dalam MGMP berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengelola proses belajar mengajar di SMPS Hasrati Kendari.
3.      Pengaruh keaktifan guru ekonomi dalam MGMP terhadap kemampuan mengelola proses belajar mengajar di SMPS Hasrati Kendari cukup besar yaitu.

B. Saran
Saran yang dapat diajukan berdasarkan simpulan di atas adalah sebagai berikut :
1.      Mengingat keaktifan guru dalam MGMP berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengelola proses belajar mengajar, maka disarankan kepada para guru Bahasa Inggris di SMP se Kota Kendati untuk lebih aktif dalam mengikuti kegiatan MGMP, khususnya lebih aktif dalam mempersiapkan materi yang akan dibahas saat MGMP, aktif dalam menanyakan setiap permasalahan pengajaran yang belum dipahami serta aktif dalam memberikan sumbangan gagasan, ide atau pendapat yang berhubungan dengan pengajaran yang sedang dikaji guna memperoleh suatu rumusan pengajaran yang efektif untuk membelajarkan siswa.
2.      Bagi tim MGMP Bahsa Inggris se Kota Kendari diharapkan untuk meningkatkan kualitas kegiatan MGMP dengan mengangkat materi-materi yang masih aktual dalam MGMP agar hasilnya benar-benar dapat bermanfaat bagi semua guru mengikutinya.












Daftar Pustaka

Anni, Chatarina Tri. 2005. Psikologi Belajar. Semarang: Unnes Press.

Arikunto, suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdikbud. 1998. Pengelolaan MGMP. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Depdiknas. 2004. Pedoman MGMP. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah.

Gulo, W. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.

Hastuti, Sri. 2005. Kontribusi Hasil Pelatihan Guru dan Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Profesionalisme Guru (Penelitian Pada Guru Madrasah Aliyah di Kota Semarang). Thesis: Semarang.

Mangkoesapoetra, Arif. 2004. Memberdayakan MGMP Sebuah Keniscayaan. Artikel. http/www. Artikel.us/art 05-14.html.

Minangwati, Sri. 2005. Manajemen Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia Kota Semarang Ditinjau Dari Peran Pengurus Dan Partisipasi Anggota. Thesis: Semarang.

Nasution. 1999. Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

_________. 2000. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

_________. 2003. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta:Bumi Aksara.

Nawawi. H. Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta:Gajah Mada University.

Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat.

Suryosubroto, B. 2002. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

UU RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta:Media Pustaka Mandiri.

Buku Pedoman Pelaksanaan KTSP SMA Institut Indonesia. Semarang: SMA Institut Indonesia.
































Lampiran 1. Kode Inisial Responden

No
Kode
Responden
Pendidikan
Terakhir
Usia
(Tahun)
Masa Kerja (Tahun)
Jumlah keikutsertaan MGMP
1
R1
S1 Pend. Bahasa Inggris
43
18
7
2
R2
S1 Pend. Bahasa Inggris
41
15
8
3
R3
S1 Pend. Bahasa Inggris
43
19
2
4
R4
S1 Pend. Bahasa Inggris
38
6
3
























Lampiran 2. Jadwal Penelitian

No
Waktu
Kegiatan
Pelaksana
1
September 2010
Persiapan;
Penyusunan Proposal

 Peneliti
2
18 September 2010
Pelaksanaan:
 Observasi I
Peneliti dengan pihak MGMP
3
2 November 2010
Pelaksanaan:
Observasi II

Peneliti dan responden
4
4 November 2010
Pelaksanaan:
Wawancara terbuka dan mendalam
Peneliti dengan responden (bertempat SMPS Hasrati Kendari)
5
5-17 November 2008
Laporan hasil Penelitian;
Penyusunan
  Laporan Penelitian


Peneliti

















Lampiran 3. Lembar Observasi I
No
Unsur dan Tahapan
keterangan
Ada
Tidak Ada
1
Jadwal kegiatan MGMP mata pelajaran Bahasa Inggris
V

2
Pemateri yang berasal dari Dinas Diknas Kota Kendari

V
3
Pemateri yang berasal dari pengawas mata pelajaran Bahasa Inggris SMP
V

4
Pemateri yang berasal dari guru inti
V

5
Penyampaian materi I
V

6
Tanya jawab
V

7
Penyampaian materi II
V

8
Tanya Jawab
V

9
Diskusi bebas
V

10
Pemberian tugas latihan untuk dikerjakan di lokasi

V
11
Pemberian tugas latihan untuk dikerjakan di rumah
V














Lampiran 4. Lembar Observasi II
No
Unsur dan Tahapan
Keterangan
Ada
Tidak Ada
1
Sebelum mengajar, guru terlebih dahulu menyusun Analisis Materi Pelajara (AMP)
V

2
Pengetahuan guru menyusun program tahunan, program semester, silabus, dan RPP meningkat
V

3
Guru menyiapakan alat evaluasi sebelum mengajar

V
4
Guru dapat membuka dan menutup pelajaran dengan baik
V

5
Ada guru yang masih terpaku pada metode ceramah

V
6
Guru sudah mulai menggunakan metode belajar yang lebih bervariasi
V

7
Guru mulai menggunakan media pembelajaran yang lebih atraktif
V

8
Kemampuan guru mengelola kelas baik
V

9
Menggunakan materi hanya dari satu sumber

V



Lampiran 5. Pedoman “Wawancara Terbuka dan Mendalam”

Wawancara terbuka dan mendalam, dapat dikembangkan lebih jauh atau lebih luas dalam kerangka memperdalam penggalian data sesuai masalah penelitian.

Salam dan hormat,
1.      Apakah selama ini terdapat kesulitan dalam mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah tempat Anda mengajar?
2.      Jika ada, kesulitan – kesulitan apa saja yang sering Anda hadapi?
3.      Menurut Anda, apa saja faktor utama yang menjadi penyebabnya?
4.      Apakah Anda rutin mengikuti MGMP Bahasa Inggris ini?
5.      Apakah ada persiapan-persiapan tertentu sebelum Anda mengikuti MGMP Bahasa Inggris ini?
6.      Mengapa Anda sangat antusias mengikuti kegiatan MGMP Bahasa Inggris ini?
7.      Manfaat apa yang Anda rasakan setelah mengikuti kegiatan MGMP Bahasa Inggris ini?
8.      Apakah Anda merasakan ada perbedaan antara sebelum dan sesudah mengikuti MGMP dalam mengelola proses belajar mengajar?

Sekian, terima kasih, dan selamat menjalankan tugas semoga selalu sukses.


0 komentar:

Poskan Komentar

Love is...
© Rumah Anthares - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace